Sebelumnya baca dulu
Part 1 nya ya :)
Bulan yang di tunggu
- tunggu oleh seluruh warga sekolahku tiba. Di bulan Mei sekolahku berulang
tahun, dan siswa - siswa sekolahku telah menyiapkan sebuah pergelaran seni yang
melibatkan seluruh siswa baik itu untuk pengisi acara maupun panitianya. Oleh,
karena itulah, sore itu aku harus datang ke sekolah untuk membantu persiapan
pergelaran, aku sendiri mendapat tugas di bagian keagamaan. Tapi, sore itu aku
akan membantu Jeni dan Cahya di bagian kostum dan tata rias. Dan, begitu tiba
di sekolah, aku sudah mendapat tugas yaitu mengantar sebuah kwitansi kepada
seorang kakak kelas. Untungnya Jeni bersedia mengantarku. Dan ketika aku akan
kembali ke aula untuk mempersiapkan kostum latihan aku dan Jeni bertemu Dias
yang juga menjadi pengisi acara pergelaran yang akan digelar.
"Neisya, sorry
aku gak bales smsmu, aku gak punya pulsa." katanya yang tak terduga di
depan teman - temannya dan juga Jeni. "oh, ya." ucapku kikuk kemudian
menarik tangan Jeni untuk segera meninggalkan Dias. Aku bingung tak memahami maksudnya,
karena seingetku aku tak pernah mengiriminya sms. "ternyata sms'n toh,
cieh." goda Jeni. "apa sih, gak penting tau, lupakan."
komentarku sambil tertawa. "tapi, mukamu memerah tuh." goda Jeni
lagi. Tapi, kali ini aku tak menanggapi ucapan Jeni, karena aku tau itu tak ada
gunanya dan mungkin hanya akan mnimbulkan perdebatan yang kian meluas. Jadi aku
memilih membiarkan Jeni dengan segala pikirannya, toh kalau Jeni bosan dia
pasti berhenti. Pergelaran seni itu telah usai dan berakhir sukses, dan kini
kami tinggal menyiapkan diri untuk mengikuti ulangan umum kenaikan kelas.
Ternyata aku sudah
setahun jadi anak SMA dan rasanya cukup menyenangkan. Usai menerima hasil
evaluasi belajar, kami menikmati liburan kami. Dan hari ini aku melangkahkan
kakiku ke sekolahku setelah beberapa waktu tak ku kunjungi dan diiringi senyum
mengembang menyambut tahun ajaran baru. Meskipun aku tau bahwa hari ini, tidak
ada proses belajar mengajar, tapi tetap saja aku datang ke sekolah. Yah, hitung
- hitung kangen - kangenan sama temen - temen sekaligus nontonin adik kelasku
mos. Ketika kupijakkan kakiku di depan ruang laboratorium biologi, aku
berpapasan dengan Dias. "hay, Neisya, pagi - pagi udah senyam - senyum aja
nih." sapanya padaku. Aku tak menanggapinya, karena temanku sudah
terlanjur menarik tanganku dan bergegas meninggalkannya, aku hanya sempat
memasang wajah bingung sebagai reaksi mendengar sapaannya itu.
Akhirnya dengan
segala pertimbangan aku memutuskan untuk memilih jurusan IPA sama seperti
pilihan kedua teman dekatku yang lagi - lagi sekelas denganku, tetapi sekali
lagi takdir tak mengizinkan aku dan Dias sekelas. Nah, sekarang aku juga punya
seorang teman dekat lagi namanya Dyah, dia teman dudukku. Jika tahun lalu,
sekolah mengadakan acara keakraban kelas dalam rangka memperingati hari
proklamasi Indonesia, tetapi tahun ini kami diajak untuk mendaki gunung sebagai
peringatan proklamasi Indonesia yang ke - 66. Sayangnya, Jeni sakit dan tidak
bisa bergabung bersama kami untuk ikut mendaki. Aku menikmati perjalanan ini
bersama Cahya dan Dyah, tawa, canda dan obrolan ringan menjadi pengiring
perjalanan ini. Meskipun sebenarnya, aku sedang tidak dalam kondisi sehat untuk
mendaki gunung, tetapi ternyata keinginan untuk mencapai puncak itu membawa
langkahku mendaki dan menemani kedua teman dekatku ini. Hingga di suatu titik,
Cahya menyerah dan memutuskan bergabung bersama teman - temanku yang lain untuk
kembali, tinggalah aku dan Dyah yang masih menyimpan secercah semangat untuk
bisa mencapai puncak.
Dan tanpa kusangka,
di sebuah titik aku dan Dyah bertemu dengan Dias ketika kami masih beristirahat
sejenak. Dengan senyum mengembang Dias meledekku, yang membuatku segera
mengajak Dyah untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya dengan segala daya upaya,
kami tiba di puncak, rasanya semua lelah di tubuh ini terbayar dengan keindahan
alam yang dapat ku tatap. Tak lupa juga aku dan Dyah mengabadikan diri kami di
sebuah kamera. Puas menikmati pemandangan, aku dan Dyah memutuskan untuk
menuruni gunung dengan langkah yang ringan sembari mencari oleh - oleh untuk
Jeni. Dan lagi - lagi aku harus bertemu Dias, yang kali ini masih saja
meledekku. Sama seperti ketika naik gunung, aku masih enggan untuk meladeninya,
aku menyibukkan diriku dengan mengobrol dengan Dyah.
Satu semester
sebagai siswa kelas XI telah berlalu, hidupku selama itu seperti air sungai
yang mengalir mencari lautan. Tak banyak yang kulakukan paling belajar, dan
sebuah kebiasaan baruku muncul yaitu mengarang cerita kemudian
mempublikasikannya di website pribadiku. Tetapi, ternyata kebiasaan
mempublikasikan cerita karanganku itu membawa kejadian buruk di kehidupanku.
Saat itu, aku tengah menikmati jam istirahatku sambil mengobrol dengan teman -
temanku. Ketika Jeni, Cahya dan Dyah yang baru saja datang dari kantin mereka
membingkiskanku sebuah berita buruk mengenai aku.
"Neisya, kita
punya berita buat kamu." kata Jeni bersemangat yang membuatku penasaran
melihat raut wajah ketiga teman dekatku itu. "berita apa?" selidikku
pada ketiganya. "tadi waktu kita ke kelas seberang buat nanyain soal ulangan
bahasa Inggris, Si Andi manggil kita dan nanyain kamu, katanya ngapain kamu gak
ikut kesana . . . " Kata Cahya yang segera aku potong. "ngapain aku
ikut, kan udah kalian yang kesana." kataku cepat. "makanya jangan
motong omongan orang, dengerin dulu cerita kita, mau tau gak?" cerca Dyah.
"mau." komentarku. "tau gak? Kamu dibilang pacaran sama Dias
tau." lanjut Cahya lagi. "itu beneran gak?" tanya Jeni.
"gak mungkinlah, kalaupun aku punya pacar, kalian bertiga pastinya adalah
orang pertama yang tau." kataku menyangkal semua cerita mereka bertiga.
Tetapi ternyata,
pembicaraan kami itu dikutif oleh teman - teman sekelasku, sehingga di kelasku
beredar juga gosip ini. Meski begitu aku enggan menanggapinya, karena menurutku
orang gila juga tau, gosip itu seratus persen tidak benar. Sepulang sekolah aku,
Jeni, Cahya dan Dyah masih duduk di depan aula sekolah kami sambil menunggu
giliran kami untuk latihan menari untuk pelajaran seni budaya kami. Dan saat
itulah, Ajeng melintas dan langsung menghampiriku. "Neisya, bener gak kamu
pacaran sama Dias?" tanyanya langsung sesuai perkiraanku. "ya
enggalah, gak mungkin." jawabku. "bagus deh kalau gitu, jangan mau
sama orang kayak Dias itu, oke." katanya kemudian meninggalkanku. Aku
menangguk, meski aku tak memahami benar apa maksud ucapannya. "siapa tu,
Neisya?" tanya Cahya. "Ajeng mantannya Dias." jawabku.
"terus kenapa dia bilang kayak tadi?" tanya Cahya. Aku hanya
mengangkat bahuku menanggapi pertanyyan terakhir dari Cahya.
Dan, sejak rumor itu
beredar, aku mulai menjauh dari Dias, bagiku sangat pantang untuk bertemu
apalagi harus menyapanya. Aku tidak mau rumor itu membawa masalah yang lebih
besar untuk hidup kami masing - masing. Jadi, aku tidak mau melewati kelasnya
apalagi kalau harus memasuki kelasnya itu, pantang banget buat aku. Tapi,
selidik punya selidik dari seorang teman yang sekelas sama Dias, akhirnya aku
tau kenapa bisa beredar rumor tersebut. Ternyata sehari sebelum rumor itu
beredar, ketua kelasku yang kebetulan aku suruh baca website pribadiku dateng
ke kelasnya Dias dan nanyain siapa orang lagi deket sama aku, dan orang di sana
pada nyebut nama Dias. Itulah asal muasal rumor itu beredar. Dan rumor itu
seolah menutup tali pertemanan di antara kami, tak ada lagi tegur sapa, bahkan
tiap kali berpapasan aku selalu buang muka padanya.

Dan, sekarang aku
sudah duduk di kelas XII, betapa sialnya aku kelasku dan kelasnya sekarang
bersebelahan, kacaunya lagi tiap kali aku akan ke kelasku harus melewati
kelasnya. Dan yang lebih sial lagi, aku dan Jeni harus sekelas dengannya ketika
mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan UN. Sementara Cahya dan Dyah tidak
sekelas dengan kami. Intinya, aku benci hari - hari mesti satu kelas dengan
Dias, pengen sih bolos, tapi gak berani, pokoknya jadi serba salah. Belum lagi,
ketua kelasku malah ngeledek gara - garanya waktu itu aku duduk di deretan yang
sama dengan Dias, katanya dalam satu periode jarak jari - jari itu dari kiri ke
kanan makin kecil, niru omongan guru kimiaku. Sejak ketua kelasku bilang kayak
gitu, aku ngelarang Jeni yang tiap mengikuti pelajaran tambahan duduk sederet
dengan Dias. Meskipun, sebenarnya situasi sudah lebih baik, sudah tak ada rumor
lagi.
Hingga suatu hari,
guru pengganti pelajaran tambahan bahasa Indonesiaku, memintaku untuk membaca
sebuah soal, tetapi siswa di kelas malah meneriakan nama Dias, jadinya aku jadi
bahan tertawaan, sumpah memalukan banget diperlakukan seperti itu. Dan, gak tau
kenapa aku malah jadi benci sama Dias, intinya gak mau deket - deket orang itu.
Dan yang membuatku makin membencinya adalah tiap dia kekelasku untuk mencari
temannya, temannya itu malah memanggil namaku. Bahkan ketika dia melintas di
depan kelasku, langsung membuat moodku memburuk. "Neisya, waktu ngajarin
aku baik banget, tapi ketika Dias lewat depan kelas dan temen - temen ngeledek,
langsung deh ngajarinnya marah - marah." cerita seorang temanku yang
disambut tawa oleh teman - temanku yang lain.
Dan kini, aku akan
meninggalkan sekolah ini, usai sudah cerita yang terbingkis tiga tahun di
sekolahku ini. Meskipun belum pengumuman kelulusan, berarti masih harus ke
sekolah, setidaknya gak ada pelajaran formal lagi. Dan, ketika masa itu tiba,
aku jadi berpikir, memangnya apa kesalahan Dias padaku, hingga aku memendam
benci padanya. Terkadang aku berharap bisa berteman baik lagi padanya seperti
waktu kelas X dulu, bisa saling bertegur sapa bukannya saling cuek dan tiap
bertemu aku harus membuang muka. Tetapi mungkinkah? Biar waktu yang kan
menjawab, karena mungkin pada akhirnya harus seperti ini.
NB : Makasi karena
udah bersedia membaca karangan terbaru saya ini. Gambarnya dari www.lokerseni.web.id ya. Bagaimana menurutmu? Aku
ingin, kalian mengapresiasi karanganku ini, menurutmu apa yang harus dilakukan
Neisya untuk menyambung tali pertemanan yang terputus dengan Dias? Aku tunggu
apresiasimu dengan meninggalkan komentar.