Jumat, 14 Juni 2013

Saat Dia Muncul Lagi


Hari itu, 25 Mei 2013, sekitar jam 1 siang secara tidak sengaja aku membuka facebookku, sekadar iseng mencoba menghilangkan kebosanan liburan di rumah, sekaligus mencoba memalingkan pikiranku bahwa aku sedang sakit. Begitu aku membukanya aku terkejut, karena di obrolanku aku melihat namanya terpangpang jelas. Seketika itu, aku berniat meng-sign out facebookku, tapi aku urungkan. Dan yang tak terduga, semenit kemudian dia men-chat aku. "hay sriii, apa kabar?" begitu dia nge-chat aku. Sejenak aku berpikir, kemudian segera membalas chatnya. "baik, kamu?" tanpa smile dan tanpa basa - basi. Heh, ternyata dia merespon apa yang aku balaskan, dan akhirnya yang aku khawatirkan terjadi, dia minta nomor hapeku dan janji bakal sms aku. Dan gak tau kenapa aku malah ngasi dia nomer hapeku tanpa pikir panjang lagi.

Sekitar jam 5 sore dia sms aku, sekadar sms yang menurutku basi banget. Coba pikirin deh, tadi waktu chat dia udah nanyain kabar aku, kemudian dia sms dan nanyain lagi kabarku, dengan alasannya dia nanya kabar lagi,  yang menurutku konyol banget, katanya biar tambah yakin aja. Dan sms'n hari itu berlanjut dengan pertanyaannya mengenai universitas yang aku incar, pokoknya dia itu kepo dan sok tau banget, tapi jika aku boleh jujur aku suka dia kayak gitu. Dan yang paling bikin aku syok, adalah dia ngirimin aku ucapan selamat tidur yang tak kuduga ngebuat aku ketar - ketir dan sepanjang tidur terus mikirin dia. Entah karena udah lama banget gak ada cowok yang ngirimin aku sms selamat tidur, atau ini karena dia yang ngirimin. Dan yang sebenernya paling aneh, gak tau kenapa waktu dia nanya kabar aku, aku bilang aku baik, padahal sebenernya aku lagi sakit, tiba - tiba pikiran kalau aku lagi sakit itu musnah.

Manusia yang satu itu dateng lagi, setelah berbulan - bulan tidak ada komunikasi, tiba - tiba sekarang dia muncul, bahkan ngebuat senyum terus terukir di bibirku. Dia muncul dan ngebuat aku gagal move on seperti sekarang. Tetapi, mau diapain lagi, jika ternyata sekarang dia ngilang lagi. Aku benci dia yang dateng, tapi gak sampai seminggu ngilang lagi. Oke, dia memang sudah berhasil lepas dari aku, tapi aku belum siap, dan kehadirannya lagi itu ngerusak yang ada sekarang. Apa iya, orang - orang masa lalu, hanya bisa menjadi perusak masa kini dan menjadi penghalang masa depan? Apa kamu tidak bisa tidak datang lagi sampai aku siap menganggap kamu sekadar temen yang cuma dateng buat sekadar menanyakan keadaanku setelah itu menghilang lagi ibarat ditelan bumi?

Jumat, 10 Mei 2013

Remaja Berprestasi Tanpa Menyentuh Miras dan Minol


“menyelematkan remaja dari cengkraman miras atau minol bukanlah hal yang mustahil, hanya saja diperlukan usaha yang lebih berat sekaligus dukungan dari seluruh komponen masyarakat.”

Bangsa Indonesia, dewasa ini tengah giat – giatnya melakukan pembangunan di segala sektor yang memerlukan remaja - remaja yang berprestasi yang selanjutnya akan melanjutkan tonggak pembangunan tersebut. Agaknya, hal ini sedikit terhambat dengan berbagai kenakalan yang tengah menggerogoti prilaku remaja. Salah satu kenakalan remaja yang tengah menyeruak ke permukaan adalah masalah semakin meningkatnya jumlah remaja yang mengonsumsi minuman keras (miras) ataupun minuman beralkohol (minol) yang memang kini dapat dijumpai dengan mudah ibarat mencari jamur di musim hujan. Padahal, untuk menjadi remaja yang berprestasi tidak harus bahkan tidak boleh meneguk miras atau minol. Karena seperti yang kita ketahui bersama miras dan minol dapat menimbulkan kerusakan jaringan lunak yang ada di dalam rongga mulut, seputar tenggorokan, dan di dalam sistem pencernaan (di dalam perut), dan yang paling mengerikan adalah memicu kanker hati, yang pada akhirnya akan menghantarkan diri pada kematian. Selain itu, kecanduan miras atau minol akan menimbulkan masalah sosial seperti percekcokkan antar peminum, seperti pada beberapa kasus berakhir dengan pembunuhan, selain itu akan menimbulkan tindak kejahatan yang kian merebak.

Dengan mendominasinya remaja menjadi pecandu miras atau minol, kita dapat bercermin bahwa remaja di Indonesia belum memahami dan bahkan belum mengetahui bahaya yang mengintip dari seteguk minuman yang sering dijadikan pelarian akan masalah yang tengah dihadapi. Yang lebih ironis lagi, ada remaja meskipun telah menyadari bahaya yang ditimbulkan miras atau minol ini, tetap saja mengonsumsi miras atau minol hanya sekadar untuk dapat di terima oleh teman – temannya. Yang menarik adalah adanya orang tua yang dengan sengaja meracuni anaknya dengan mengajaknya mengonsumsi miras atau minol bersama – sama. Dan yang paling menakutkan adalah ketika orang tua mengetahui anaknya mengonsumsi miras atau minol, orang tua itu hanya mematut diri dan cenderung membiarkan anaknya makin dalam tercebur di lautan miras atau minol, tanpa ada usaha untuk menolong anaknya agar berenang ketepian meninggalkan lautan tersebut. Kebanyakan remaja bahkan menganggap miras atau minol selayaknya air mineral dalam kemasan yang tak sedikitpun mempengaruhi kesehatannya, yang bisa diminum tiap saat dan dalam kapasitas besar. Dari hal ini, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih mengabaikan bahaya miras atapun minol baik untuk dirinya sendiri dan lingkungan disekitarnya. Sekaligus menunjukkan bahwa berbagai usaha menyosialisasikan bahaya dari miras yang dilakukan oleh berbagai pihak menemui jalan buntu.

Berkaca dari berbagai fenomena yang ada, sudah sepatutnya kita membuka pikiran dan mata masyarakat agar memahami bahaya yang ditimbulkan dari meneguk miras maupun minol. Hal ini, sangat penting karena masyarakat yang melihat bahkan akan merasakan dampak negatif yang ditimbulkan dari miras. Tidak hanya dalam hal menyosialisasikan bahaya dari miras maupun minol, masyarakat wajib berperan aktif dalam hal mengurangi peredaran miras dan minol minimal dalam lingkungan keluarganya sendiri. Jika keluarganya saja tidak peduli, apalagi orang lain, tentunya perjuangan menyelamatkan remaja dari cengkraman miras atau minol akan semakin berat. Belum lagi, norma – norma sosial yang seharusnya mebjauhkan remaja dari miras atau minol, rupanya telah menjelma menjadi harimau tak bertaring lagi, dan mungkin sebentar lagi hanya akan menjadi patung pemanis sebuah ruangan.
Meskipun begitu, pemerintah tetap harus ikut bertanggung jawab dalam upaya pemberantasan salah satu penyakit masyarakat ini. Pemerintah seoptimal mungkin harus mengkapasitasi usaha menyosialisasikan bahaya miras atau minol, entah itu melalui seminar – seminar meskipun mungkin tidak menunjukkan hasil positif, atau mungkin pemerintah bisa bekerjasama dengan instansi terkait dalam menciptakan kartun atau game online yang menyoroti dampak yang ditimbulkan akibat kebiasaan meneguk miras atau minol. Mungkin dengan sosialisasi melalui perangkat digital ini, remaja Indonesia akan lebih mudah memahami bahaya yang mengintai dibalik kenikmatan sesaat yang ditawarkan miras atau minol serta berusaha mengimplementasikan di kehidupannya. Pemerintah melalui pihak kepolisian harus berani menegakkan hukum bagi pengedar miras,dan minol sehingga tidak ada kesan “latah”, ketika menjelang hari raya baru pihak kepolisian rutin menyidak tempat – tempat yang menyuguhkan miras atau minol. Menjauhkan remaja dari miras ataupun minol bukanlah hal yang mustahil, hanya saja perjuangan ini kian berat dan memerlukan dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu sebagai seorang remaja, mari kita bentengi diri kita dari pengaruh miras ataupun minol, karena kita remaja penerus bangsa yang harus berprestasi. 
NB : gambar di peroleh dari situs melalui google images.

Sabtu, 04 Mei 2013

Pada Akhirnya - Part 2 (End)


Sebelumnya baca dulu Part 1 nya ya :)
Bulan yang di tunggu - tunggu oleh seluruh warga sekolahku tiba. Di bulan Mei sekolahku berulang tahun, dan siswa - siswa sekolahku telah menyiapkan sebuah pergelaran seni yang melibatkan seluruh siswa baik itu untuk pengisi acara maupun panitianya. Oleh, karena itulah, sore itu aku harus datang ke sekolah untuk membantu persiapan pergelaran, aku sendiri mendapat tugas di bagian keagamaan. Tapi, sore itu aku akan membantu Jeni dan Cahya di bagian kostum dan tata rias. Dan, begitu tiba di sekolah, aku sudah mendapat tugas yaitu mengantar sebuah kwitansi kepada seorang kakak kelas. Untungnya Jeni bersedia mengantarku. Dan ketika aku akan kembali ke aula untuk mempersiapkan kostum latihan aku dan Jeni bertemu Dias yang juga menjadi pengisi acara pergelaran yang akan digelar.
"Neisya, sorry aku gak bales smsmu, aku gak punya pulsa." katanya yang tak terduga di depan teman - temannya dan juga Jeni. "oh, ya." ucapku kikuk kemudian menarik tangan Jeni untuk segera meninggalkan Dias. Aku bingung tak memahami maksudnya, karena seingetku aku tak pernah mengiriminya sms. "ternyata sms'n toh, cieh." goda Jeni. "apa sih, gak penting tau, lupakan." komentarku sambil tertawa. "tapi, mukamu memerah tuh." goda Jeni lagi. Tapi, kali ini aku tak menanggapi ucapan Jeni, karena aku tau itu tak ada gunanya dan mungkin hanya akan mnimbulkan perdebatan yang kian meluas. Jadi aku memilih membiarkan Jeni dengan segala pikirannya, toh kalau Jeni bosan dia pasti berhenti. Pergelaran seni itu telah usai dan berakhir sukses, dan kini kami tinggal menyiapkan diri untuk mengikuti ulangan umum kenaikan kelas.
Ternyata aku sudah setahun jadi anak SMA dan rasanya cukup menyenangkan. Usai menerima hasil evaluasi belajar, kami menikmati liburan kami. Dan hari ini aku melangkahkan kakiku ke sekolahku setelah beberapa waktu tak ku kunjungi dan diiringi senyum mengembang menyambut tahun ajaran baru. Meskipun aku tau bahwa hari ini, tidak ada proses belajar mengajar, tapi tetap saja aku datang ke sekolah. Yah, hitung - hitung kangen - kangenan sama temen - temen sekaligus nontonin adik kelasku mos. Ketika kupijakkan kakiku di depan ruang laboratorium biologi, aku berpapasan dengan Dias. "hay, Neisya, pagi - pagi udah senyam - senyum aja nih." sapanya padaku. Aku tak menanggapinya, karena temanku sudah terlanjur menarik tanganku dan bergegas meninggalkannya, aku hanya sempat memasang wajah bingung sebagai reaksi mendengar sapaannya itu.
Akhirnya dengan segala pertimbangan aku memutuskan untuk memilih jurusan IPA sama seperti pilihan kedua teman dekatku yang lagi - lagi sekelas denganku, tetapi sekali lagi takdir tak mengizinkan aku dan Dias sekelas. Nah, sekarang aku juga punya seorang teman dekat lagi namanya Dyah, dia teman dudukku. Jika tahun lalu, sekolah mengadakan acara keakraban kelas dalam rangka memperingati hari proklamasi Indonesia, tetapi tahun ini kami diajak untuk mendaki gunung sebagai peringatan proklamasi Indonesia yang ke - 66. Sayangnya, Jeni sakit dan tidak bisa bergabung bersama kami untuk ikut mendaki. Aku menikmati perjalanan ini bersama Cahya dan Dyah, tawa, canda dan obrolan ringan menjadi pengiring perjalanan ini. Meskipun sebenarnya, aku sedang tidak dalam kondisi sehat untuk mendaki gunung, tetapi ternyata keinginan untuk mencapai puncak itu membawa langkahku mendaki dan menemani kedua teman dekatku ini. Hingga di suatu titik, Cahya menyerah dan memutuskan bergabung bersama teman - temanku yang lain untuk kembali, tinggalah aku dan Dyah yang masih menyimpan secercah semangat untuk bisa mencapai puncak.
Dan tanpa kusangka, di sebuah titik aku dan Dyah bertemu dengan Dias ketika kami masih beristirahat sejenak. Dengan senyum mengembang Dias meledekku, yang membuatku segera mengajak Dyah untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya dengan segala daya upaya, kami tiba di puncak, rasanya semua lelah di tubuh ini terbayar dengan keindahan alam yang dapat ku tatap. Tak lupa juga aku dan Dyah mengabadikan diri kami di sebuah kamera. Puas menikmati pemandangan, aku dan Dyah memutuskan untuk menuruni gunung dengan langkah yang ringan sembari mencari oleh - oleh untuk Jeni. Dan lagi - lagi aku harus bertemu Dias, yang kali ini masih saja meledekku. Sama seperti ketika naik gunung, aku masih enggan untuk meladeninya, aku menyibukkan diriku dengan mengobrol dengan Dyah.
Satu semester sebagai siswa kelas XI telah berlalu, hidupku selama itu seperti air sungai yang mengalir mencari lautan. Tak banyak yang kulakukan paling belajar, dan sebuah kebiasaan baruku muncul yaitu mengarang cerita kemudian mempublikasikannya di website pribadiku. Tetapi, ternyata kebiasaan mempublikasikan cerita karanganku itu membawa kejadian buruk di kehidupanku. Saat itu, aku tengah menikmati jam istirahatku sambil mengobrol dengan teman - temanku. Ketika Jeni, Cahya dan Dyah yang baru saja datang dari kantin mereka membingkiskanku sebuah berita buruk mengenai aku.
"Neisya, kita punya berita buat kamu." kata Jeni bersemangat yang membuatku penasaran melihat raut wajah ketiga teman dekatku itu. "berita apa?" selidikku pada ketiganya. "tadi waktu kita ke kelas seberang buat nanyain soal ulangan bahasa Inggris, Si Andi manggil kita dan nanyain kamu, katanya ngapain kamu gak ikut kesana . . . " Kata Cahya yang segera aku potong. "ngapain aku ikut, kan udah kalian yang kesana." kataku cepat. "makanya jangan motong omongan orang, dengerin dulu cerita kita, mau tau gak?" cerca Dyah. "mau." komentarku. "tau gak? Kamu dibilang pacaran sama Dias tau." lanjut Cahya lagi. "itu beneran gak?" tanya Jeni. "gak mungkinlah, kalaupun aku punya pacar, kalian bertiga pastinya adalah orang pertama yang tau." kataku menyangkal semua cerita mereka bertiga.
Tetapi ternyata, pembicaraan kami itu dikutif oleh teman - teman sekelasku, sehingga di kelasku beredar juga gosip ini. Meski begitu aku enggan menanggapinya, karena menurutku orang gila juga tau, gosip itu seratus persen tidak benar. Sepulang sekolah aku, Jeni, Cahya dan Dyah masih duduk di depan aula sekolah kami sambil menunggu giliran kami untuk latihan menari untuk pelajaran seni budaya kami. Dan saat itulah, Ajeng melintas dan langsung menghampiriku. "Neisya, bener gak kamu pacaran sama Dias?" tanyanya langsung sesuai perkiraanku. "ya enggalah, gak mungkin." jawabku. "bagus deh kalau gitu, jangan mau sama orang kayak Dias itu, oke." katanya kemudian meninggalkanku. Aku menangguk, meski aku tak memahami benar apa maksud ucapannya. "siapa tu, Neisya?" tanya Cahya. "Ajeng mantannya Dias." jawabku. "terus kenapa dia bilang kayak tadi?" tanya Cahya. Aku hanya mengangkat bahuku menanggapi pertanyyan terakhir dari Cahya.
Dan, sejak rumor itu beredar, aku mulai menjauh dari Dias, bagiku sangat pantang untuk bertemu apalagi harus menyapanya. Aku tidak mau rumor itu membawa masalah yang lebih besar untuk hidup kami masing - masing. Jadi, aku tidak mau melewati kelasnya apalagi kalau harus memasuki kelasnya itu, pantang banget buat aku. Tapi, selidik punya selidik dari seorang teman yang sekelas sama Dias, akhirnya aku tau kenapa bisa beredar rumor tersebut. Ternyata sehari sebelum rumor itu beredar, ketua kelasku yang kebetulan aku suruh baca website pribadiku dateng ke kelasnya Dias dan nanyain siapa orang lagi deket sama aku, dan orang di sana pada nyebut nama Dias. Itulah asal muasal rumor itu beredar. Dan rumor itu seolah menutup tali pertemanan di antara kami, tak ada lagi tegur sapa, bahkan tiap kali berpapasan aku selalu buang muka padanya.

Dan, sekarang aku sudah duduk di kelas XII, betapa sialnya aku kelasku dan kelasnya sekarang bersebelahan, kacaunya lagi tiap kali aku akan ke kelasku harus melewati kelasnya. Dan yang lebih sial lagi, aku dan Jeni harus sekelas dengannya ketika mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan UN. Sementara Cahya dan Dyah tidak sekelas dengan kami. Intinya, aku benci hari - hari mesti satu kelas dengan Dias, pengen sih bolos, tapi gak berani, pokoknya jadi serba salah. Belum lagi, ketua kelasku malah ngeledek gara - garanya waktu itu aku duduk di deretan yang sama dengan Dias, katanya dalam satu periode jarak jari - jari itu dari kiri ke kanan makin kecil, niru omongan guru kimiaku. Sejak ketua kelasku bilang kayak gitu, aku ngelarang Jeni yang tiap mengikuti pelajaran tambahan duduk sederet dengan Dias. Meskipun, sebenarnya situasi sudah lebih baik, sudah tak ada rumor lagi.
Hingga suatu hari, guru pengganti pelajaran tambahan bahasa Indonesiaku, memintaku untuk membaca sebuah soal, tetapi siswa di kelas malah meneriakan nama Dias, jadinya aku jadi bahan tertawaan, sumpah memalukan banget diperlakukan seperti itu. Dan, gak tau kenapa aku malah jadi benci sama Dias, intinya gak mau deket - deket orang itu. Dan yang membuatku makin membencinya adalah tiap dia kekelasku untuk mencari temannya, temannya itu malah memanggil namaku. Bahkan ketika dia melintas di depan kelasku, langsung membuat moodku memburuk. "Neisya, waktu ngajarin aku baik banget, tapi ketika Dias lewat depan kelas dan temen - temen ngeledek, langsung deh ngajarinnya marah - marah." cerita seorang temanku yang disambut tawa oleh teman - temanku yang lain.
Dan kini, aku akan meninggalkan sekolah ini, usai sudah cerita yang terbingkis tiga tahun di sekolahku ini. Meskipun belum pengumuman kelulusan, berarti masih harus ke sekolah, setidaknya gak ada pelajaran formal lagi. Dan, ketika masa itu tiba, aku jadi berpikir, memangnya apa kesalahan Dias padaku, hingga aku memendam benci padanya. Terkadang aku berharap bisa berteman baik lagi padanya seperti waktu kelas X dulu, bisa saling bertegur sapa bukannya saling cuek dan tiap bertemu aku harus membuang muka. Tetapi mungkinkah? Biar waktu yang kan menjawab, karena mungkin pada akhirnya harus seperti ini.

NB : Makasi karena udah bersedia membaca karangan terbaru saya ini. Gambarnya dari www.lokerseni.web.id ya. Bagaimana menurutmu? Aku ingin, kalian mengapresiasi karanganku ini, menurutmu apa yang harus dilakukan Neisya untuk menyambung tali pertemanan yang terputus dengan Dias? Aku tunggu apresiasimu dengan meninggalkan komentar.

Pada Akhirnya - Part 1


Nama aku Neisya Ristiyani, orang - orang disekelilingku selalu memanggilku Naila. Sekarang aku sudah kelas X di sebuah SMA yang cukup tersohor di daerahku. Sore itu, aku tengah berlari menuju sekitaran halaman sekolahku, saat kulihat banyak siswa telah bergerumul di sana. Rencananya aku akan mengikuti acara sosialisasi mengenai lingkungan hidup. Eits, aku mengikuti acara ini bukan karena aku berniat menjadi seorang duta lingkungan, melainkan karena acara ini adalah program wajib yang harus di ikuti siswa sekolahku. Aku masih terus mengedarkan pandanganku, mencari seorang teman sekelasku. Tapi, hasilnya nihil, jadilah aku berbaur dengan siswa dari kelas lainnya. "Tuh kan, aku dikerjain lagi sama temen - temen, mereka bilang tadi pagi sama aku dateng, tapi nyatanya hanya ada aku seorang." bathinku kesal. Perasaan juga, kedua teman dekatku Jeni dan Cahya juga mengatakan akan menghadiri acara ini, tetapi hingga acara dimulai mereka berdua belum menampakkan dirinya.
Acara diawali dengan doa bersama, hingga doa usaipun aku masih berharap ada teman sekelasku yang datang. Aku melihat kesebelahku, memang ada yang datang tapi itu, Dias yang notabenenya bukan orang yang aku harapkan. "orang seperti Dias aja mau dateng, kenapa temen - temen sekelasku gak ada yang mau dateng." bathinku, soalnya dari beberapa acara yang bermodel seperti sore ini, aku baru kali ini ngeliat Dias dateng. Semuanya mendengarkan sosialisasi dengan tenang hanya sesekali terdengar suara gaduh yang memenuhi ruangan sekadar mengomentari ucapan narasumber. Sementara aku hanya diam membisu mendengarkan semua itu.
Hingga tiba - tiba saja alarm jam tangan yang kukenakan berbunyi. Dan konyolnya lagi, aku tidak tau bagaimana cara mematikannya. Memang pernah aku tekan semua tombol yang ada di jamku berusaha berekperimen untuk mematikan alarm jam tanganku, tetapi nyatanya sia - sia, masa iya 5 menit kemudian bunyi lagi. Awalnya sich aku berniat berpura - pura bahwa bunyi itu bukan berasal dari jam tanganku. "Neisya, matiin apa alarm jam tanganmu itu, ganggu tau." keluh Dias. "kalau aku tau caranya ngematiinnya, udah dari tadi aku matiin." jawabku nyengir. "udah sini, kasih aku aja jamnya." pintanya sambil tertawa kecil. "memangnya kamu bisa matiinnya?" tanyaku polos. "engga bisa juga sich, udah sini banting aja." ucapnya nyengir. Usai perbincangan singkat itu, kami lantas larut mendengarkan kembali keterangan narasumber.
Sekitar pukul 06.00 acara sore itu berakhir. Aku bergegas menuju tempat parkir, karena malam mulai menyapa ditambah udara dingin yang menyerbu kedalam tulang - tulang tubuhku. Ketika aku melintasi depan sekolahku, kulihat Ajeng mantannya Dias tengah membawakan kue ulang tahun untuk Dias. Eh, pantesan aja si Dias tumben - tumbenan dateng ke acara beginian. Sesampainya di rumah, aku segera menuliskan bingkisan ucapan ulang tahun untuk Dias. Setelah memastikan pesan itu terkirim, aku meninggalkan handphoneku. Dan diluar dugaanku Dias membalas pesanku itu. Dan hari ulang tahunnya ini, seolah membuka tali pertemanan diantara kami.
Siang itu, aku, Jeni dan Cahya tengah mengerjakan tugas kelompok kami di emperan kelas kami dan saat itulah Dias melintas dan tak lupa menyapaku sambil sekadar tebar pesona mungkin. "hay, Neisya belum pulang?" tanyanya. "belum, masih bikin tugas." jawabku. Entah apa yang diucapkannya mendengar jawabanku, karena Dias telah berlalu begitu aku selesai menjawab, namun dari raut bibirnya seperti mengucapkan sesuatu, hanya saja aku tak mendengarnya dan tak ingin menafsirkannya. Seusai membuat tugas, aku tak kunjung pulang, aku harus mengerjakan tugas piketku, untungnya ada Jeni dan Cahya yang masih bersedia menungguku menyelesaikan tugas piketku. Ketika aku tengah menyapu, Dias muncul di depan kelasku, entah apa yang tengah dikerjakannya ketika itu. "hei, Nesya rajin banget." ucapnya. "iya dong, baru tau ya kalau aku rajin." ucapku. "eh, sekalian dong bersihin rumahku juga." katanya sambil tertawa. "eh, enak aja, ini aja belum selesai, bantuin sini, kamu bisanya ngetawain aja." kataku mulai kesal. "gak ah, aku balik duluan, yang bersih ya Neisya nyapunya." ucapnya kemudian meninggalkan kelasku. Sementara Jeni dan Cahya hanya geleng - geleng kepala mendengar perbincangan kami, meski sesekali saling tukar pandangan.
Kala itu, aku tengah berjalan hendak menuju parkiran sekolah, ketika aku berpapasan dengan Dias dan akhirnya kami berjalan bersama - sama yang dibarengi dengan sebuah perbincangan yang sebenarnya tidak jelas. Ya, setidaknya kami berbicara satu sama lain dan ada yang kami jadikan bahan untuk saling mengumpat satu sama lain seperti biasanya. 14 Februari diperingati sebagai hari valentine yang merupakan salah satu hari yang paling tidak aku sukai tiap tahunnya. Dan di hari itu, aku masih harus mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, meski tadi siang teman -teman sudah menghasutku untuk tidak mengikuti acara ini. Toh, nyatanya tetap saja sore itu, aku melangkahkan kakiku menuju kelas tempat aku akan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
Untungnya, kegiatan hari ini berjalan cepat, mungkin karena guru pembina kami sadar tentang hari ini. Aku memilih sekadar berjalan - jalan menikmati suasana sore di sekolah, kemudian memutuskan duduk di bangku taman depan kelasku. Hingga akhirnya datang Dias yang tanpa basa basi langsung duduk di sebelahku. "sendirian aja nih." ucapnya begitu duduk di sebelahku. "gitu deh." jawabku sekenanya. "eh, iya aku belum ngucapin. Happy Velentine ya." ucap Dias sambil mengulurkan tangannya. "happy Velntine too." jawabku sambil menjabat tangannya yang terulur itu. Meskipun aku sedikit kesal karena ia mengucapkan yang tidak ingin aku dengar, ya setidaknya aku ada teman mengobrol. Lelah mengobrol dan bercanda kami kemudian pulang.
Pagi itu, aku, Jeni dan cahya tengah mengerjakan tugas matematika pemberian guru kami yang sedang berhalangan mengajar kami di perpustakaan sekolah kami. "Neisya, ini apa jawabannya?" tanya Cahya sambil menunjuk soal yang dimaksudnya. Aku mengamati soal tersebut, sambari mengambil selembar kertas dan mencoba mencari jawabannya. "gak tau." jawabku akhirnya. "gimana sih, katanya suka matematika, masa gak ketemu sih." komentar Jeni. "aku kan bukan ahli matematika, aku kan cuma menyukai matematika aja." belaku. Kemudian datanglah segerombolan siswa lainnya, dan salah satunya adalah Dias, segera saja aku memanggilnya. "Dias sini." panggilku penuh semangat. "kenapa Neisya?" tanyanya begitu ia sudah dihadapanku. "tolongin dong, ini apa jawabannya?" tanyaku sambil menunjuk soal yang aku maksud. "yang ini jawabannya." kata Dias beberapa saat setelah ia usai mengorak - orek. "makasi ya." jawabku senang. "iya, aku pergi dulu." jawabnya, kemudian pergi meninggalkan aku dan temen - temanku. Aku makin jarang bertemu dengan Dias mungkin karena kesibukan kami masing - masing. Bersambung --->

Minggu, 28 April 2013

Visi dan Misi Cagub dan Cawagub Bali


Hari ini, Minggu 28 April 2013, dilaksanakan pemaparan visi dan misi kedua kandidat pemilukada Bali, Puspayoga - Dewa Sukrawan dan Mangku Pastika - Sudikerta di hadapan anggota DPED Bali yang juga mengawali masa kampanye Pilkada Bali selama 28 April-11 Mei 2013.

Mengawali pemaparan visi dan misi, Puspayoga menyampaikan bahwa visinya jika terpilih menjadi Gubernur Bali periode 2013-2018 adalah membangun Bali berbasis kabupaten/kota, sedangkan misinya adalah mempercepat pemerataan pembangunan di Bali, melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali, dan memperkuat posisi desa pakraman (desa adat) sebagai benteng budaya Bali.

Sementara itu, pasangan Cagub dan Cawagub Bali nomor urut 2, Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta mengawali penyampaian visi mereka adalah menuju Bali Mandara, yakni Bali yang maju, aman, damai dan sejahtera. Mandara yang diambil dari bahasa Sansekerta juga berarti besar, agung, suci dan hebat.

Adapun misinya yakni yang pertama mewujudkan Bali yang berbudaya, metaksu, dinamis, maju dan modern. Kedua, mewujudkan Bali yang aman, damai, tertib, harmonis, serta bebas dari berbagai ancaman dan yang ketiga mewujudkan Bali yang sejahtera dan sukerta lahir bathin.

Nah, itu dia pemaparan visi dan misi kedua kandidat cagub dan cawagub Bali yang saya adaptasi dengan perubahannya dari http://www.suarapembaruan.com/home/penyampaian-visi-misi-cagub-bali-berlangsung-panas/34651 . Sekali lagi saya mengingatkan dan mengajak teman - teman di Bali untuk tetap menjaga suasana Bali kondusif selama proses kampanye hingga nantinya KPUD Bali akan mengumumkan siapa pemenang pemilukada tahun 2013. jangan lupa datang ke TPS tanggal 15 Mei 2013, Gunakan hak pilih kita dengan cerdas, sehingga nantinya Bali tidak akan semakin tenggelam dalam arus globalisasi dan kehilangan jati dirinya. Seperti yang diungkapkan sebuah iklan di radio, Bali ini kecil tidak sesuai untuk industri besar, karenanya mari kita memilih gubernur dan wakil gubernur yang memang memahami Bali sebagai bagian dari jiwanya, sehingga Bali yang bergantung dari budayanya akan tetap lestari dan ajeg, untuk jadwal kampanye kedua kandidat dapat di lihat di website resmi KPUD Bali
Di bawah ini merupakan gambar kedua kandidat yang saya ambil dari google image.


Kamis, 25 April 2013

Lebih Dekat dengan Cagub dan Cawagub Bali


Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Bali rencananya akan digelar pada tanggal 15 Mei 2013 mendatang, berbagai persiapan untuk menyambut perhelatan  ini yang akan menentukan pemimpin Bali 5 tahun kedepannya. Mulai dari persiapan sosialisasi daftar pemilih tetap,jadwal pemilu, pendaftaran calon, tes kesehatan hingga masa kampanye. Tetapi euforia pemilu itu telah nampak, sejak beberapa bulan lalu, sebelum masa pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur dimulai. Yang lebih menarik lagi, ketika KPUD Bali sibuk menyosialisasikan pelaksanaan pemilu Bali, para simpatisan cagub dan cawagup pun tidak mau kalah dalam mempromosikan calonnya. Mulai dari baliho, famlet, hingga iklan di televisi dan radio, dan tak luput pula  cagub dan cawagub memiliki soundtrack masing-masing yang salah satu kandidat bahkan membuat video klip. Pemilu Bali sendiri akan diikuti 2 pasang kandidat, awalnya ada 3 pasang kandidat, namun 1 pasang dinyatakan gugur karena terlambat menyelesaikan kelengkapan administrasinya. Pengundian nomor urut kandidatpun telah diadakan beberapa waktu lalu, dimana untuk nomor urut 1 adalah pasangan Puspayoga - Dewa Sukrawan dan nomor urut 2 adalah pasangan Mangku Pastika - Ketut Sudikerta. Masing - masing pasangan ini pun telah menyiapkan jagron masing - masing yang dapat ditemui di setiap pelosok Bali, baik itu di kota Denpasar hingga daerah terpencil di Karangasem. Menilik kejadian tersebut, sebagai remaja Bali saya menilai bahwa hal tersebut membuktikan orang Bali masih kreatif dan cukup antusias menyambut pemilu. Tetapi terlepas dari hal itu, saya mengharapkan bahwa pemilu yang akan diadakan kali ini benar - benar mampu mewakili aspirasi masyarakat Bali, sehingga tidak akan muncul ketimpangan antara kota dengan desa, tidak juga muncul jurang pemisah antara Bali Utara, Bali Selatan, Bali Tengah, Bali Timur maupun Bali Barat, serta yang terpenting tidak akan menimbulkan kecemburuan sosial bahwa hanya 1 kabupaten saja yang diperhatikan oleh calon pemimpin Bali. Dan yang ingin saya tekankan disini, adalah bagaimana KPUD Bali merangkul teman - teman seangkatan saya yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya, sehingga pemilih pemula seperti saya ini tidak akan terbawa arus yang malah akan menenggelamkan saya. Karena, bagaimanapun juga 1 suara dari pemilih pemula ini akan menentukan juga bagaimana Bali 5 tahun mendatang. Oleh, karena itu, saya mengajak truna truni Bali untuk mencoblos di TPS yang telah ditetapkan KPUD Bali, agar kita bisa memilih calon yang pantas untuk meminpin Bali 5 tahun mendatang, sehingga nantinya kita akan merasa ikut bertanggung jawab dalam mengawasi pemerintahan kandidat orang nomor 1 di Bali ini. Nah, untuk itu, saya telah mereferensikan beberapa data mengenai cagub dan cawagub.
Yang pertama adalah calon gubernur Bali nomor urut 1, yaitu : Anak Agung  Ngurah Puspayoga, yang masih menjabat wakil gubernur Bali ini lahir di Denpasar 7 Juli 1965. Beliau sendiri kini berdiam di Jalan Veteran no.26 Denpasar. Beliau memperistri perempuan yang murah senyum bernama
I Gusti Ayu Bintang Darmawati, SE dan di karuniai seorang putra bernama Anak Agung Abiyoga. Pak Puspayoga sendiri bersekolah SD 10 Denpasar 1971 s.d. 1977, kemudian melanjutkan pendidikannya di  SMPN 1 Denpasar dan  menamatkan pendidikannya di sekolah ini  tahun 1981. setelah itu beliau bersekolah di SLTA 1 Denpasar (sekarang SMA Negeri 1 Denpasar atau biasa disebut smansa) dan tamat tahun 1984. kemudian beliau menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Ngurah Rai yang diselesaikannya pada tahun 1991. setelah itu, beliau sempat beberapa kali berkiprah dalam kancah perpolitikan Bali, sebelum menjadi wagub Bali untuk periode 2008 - 2013, beliau merupakan Walikota Kota Denpasar untuk periode  yang sangat disegani warga kota.  Selain itu, beliau pernah menjabat  Ketua PDI Perjuangan Denpasar 1997 - 2000, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan 1995 – 1997, Ketua PDI Perjuangan Desa Denpasar Timur 1982,  Dosen Universitas Ngurah Rai, Ketua DPRD Kota Denpasar 1999-2000, serta pernah menjadi tim sukses KLB Surabaya.
Selanjutnya, saya akan mengulas sedikit mengenai cagub Bali bernomor urut 2, yaitu  Drs. Made Mangku Pastika  lahir di  Sanggalangit, 22 Iuni 1951 yang tinggal di  Perum Teras Ayung Blok B No. 55 Denpasar. Beliau beristrikan  Ni Made Ayu Putri dan memiliki 3 orang putra.   Riwayat pendidikan : Pak Mangku Pastika bersekolah di  Sekolah Rakyat 4 Bubunan, Buleleng kemudian SMU Tingkat Pertama Negeri 4 Lembang kemudian   SMA Negeri II Palembang, melanjutkan studi di Akademi Angkatan Bersenjata Repubik Indonesia Bagian Kepolisian di Sukabumi (S1),  Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Republik Indonesia di Jakarta (S1),  Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Jakarta (S1), Program Pascasarjana Magister Manajemen pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi “IGI” di Jakarta (S2). Sebelum menjabat sebagai gubernur Bali untuk periode 2008 - 2013 beliau pernah menjabat sebagai kapolda Bali  2003 - 2005, kemudian menjadi Kepala Pelaksana BNN RI (Komjen. Pol), 2005-2008.
Selanjutnya saya akan mengulas sedikit informasi mengenai Ketut sudikerta, Lahir di Pecatu, Badung, 29 Agustus 1967 dan tinggal : Br Kauh, Desa pecatu, Kuta Selatan, Badung.  Ida Ayu Ketut Sumiatini, SH merupakan istri beliau yang telah memberikan 2 buah putra. Pendidikan beliau di awali di  Sekolah Dasar No 1 Pecatu Badung, Ijazag Tahun 1980, kemudian Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama (SMP) Sunari Loka, Kuta - Badung, Ijazah Tahun 1983, Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA) PGRI 4 Badung Di Denpasar, Ijazah Tahun 1986 sampai akhirnya memperoleh gelar Sarjana Sastra, Fakultas  Sastra, Universitas Warmadewa, Ijazah Tahun 1993. Kini beliau tengah menjabat sebagai wakil bupati di kabupaten Badung untuk periode 2010 - 2015. Selain itu, beliau adalah ketua DPD Golkar Provinsi Baliperiode 2010 - 2015.
Dan yang terakhir, saya akan memberikan ulasan singkat pasangan Puspayoga, yaitu Dewa Made Sukrawan, SH. Beliau  lahir di Singaraja  11 April 1971 dan tinggal di Banjar Dinas Satria, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Beliau sendiri mempersunting Ni Kadek Sri Kusuma Yantiari dan telah dikaruniai  4 putra. Beliau mengawali pendidikannya di SD N0. 5 Bungkulan tahun 1978-1984, kemudian melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 2 Sawan Tahun 1984-1987, lalu di SMA PGRI 2 Singaraja tahun 1987-1990 sampai akhirnya melanjutkan pendidikan tigginya di  Universitas Mahendrata Tahun 2010. Beliau pernah menjabat beberapa posisi penting dalam organisasi yang biikutinya, beberapa diantaranya adalah Ketua Ranting PDI Perjuangan Desa Bungkulan Masa Bhakti 1992-1997, Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Sawan Masa Bhakti 1997 - 2000, Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Sawan Masa Bhakti 2000 - 2005, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng Masa Bhakti 2005 - 2010, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng Masa Bhakti 2010 - 2015. Sebelum menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Buleleng periode 2009 - 2014, beliau merupakan anggota DPRD Kab. Buleleng 1999-2004, Anggota DPRD Kab. Buleleng 2004-2007.
Nah, setelah saya mengulas mengenai biodata singkat kedua pasang kandidat cagub dan cawagub, Bali. Saya akan mengulas sedikit mengenai tema yang diangkat masing - masing kandidat, untuk visi dan misi masing - masing kandidat mari kita tunggu penyampaiannya di depan DPRD Bali 28 April 2013 nanti. Pasangan nomor urut 1 mengungkap tema Bali berbasiskan kabupaten dan kota (dengan jagron "Niki Sampun Sane Pas Mimpin Bali"), sementara pasangan nomor urut 2 mengambil tema yang sama dengan pemilihan 5 tahun yang lalu, yaitu Bali Mandara (Aman, damai, dan sejahtera) dengan jagronnya "Dunia Mengakui - Teruskan".
Nah, usai sudah ulasan saya mengenai calon kandidat guberbur dan wakil gubernur Bali, saat ini saya mengajak krama Bali, entah itu truna truni, orang tua, pegawai, napi dan seluruh lapisan Bali, mari kita gunakan hak pilih kita untuk memilih gubernur dan wakilnya untuk 5 tahun kedepannya. Saya, ingatkan tidak ada 1 pun manusia di bumi ini yang sempurna, semuanya memiliki kekurangan termasuk ke-2 pasang kandidat cagub dan cawagub Bali. Tetapi saya berkeyakinan bahwa diantara salah 1nya akan ada yang yang memang pantas dan cocok untuk memimpin Bali, yang tidak akan membubarkan seni dan budaya Bali, serta berusaha mengembalikan kejayaan seni dan Budaya Bali seperti sebelum bom Bali meledak. Dan tidak ketinggalan, akan melindungi Bali dari lebah - lebah nakal yang akan menghisap habis manisnya Bali. Terakhir dari saya, ayo datang ke TPS tanggal 15 Mei 2013 dari jam 08.00 WITA - 14.00 Wita dan jangan lupa nyoblos.  Dan untuk jadwal pelaksaan pemilu Bali dapat di lihat di sini.

Senin, 11 Maret 2013

Nyepi, Esensimu Kini





Nyepi merupakan salah satu hari suci bagi umat Hindu. Nyepi sendiri diperingati setiap 365 hari sekali atau satu tahun sekali yaitu pada tanggal apisan sasih kedasa menurut perhitungan kalender Hindu di Bali. Nyepi sendiri memiliki makna sunyi, suwung, sepi, maupun senyap . Dimana menurut pandangan pribadi saya, momentum nyepi merupakan suatu hari dimana umat Hindu merenungkan apa saja yang telah dilakukan selama setahun kebelakang, serta sebagai hari dimana umat manusia memberikan kesempatan pada bumi pertiwi untuk beristirahat setelah setahun penuh berhiruk pikuk membantu manusia. Tetapi masihkah umat Hindu kini memaknai Nyepi sebagai usaha mengembalikan dirinya pada titik nol kehidupannya. Barangkali pemahaman generasi muda terhadap esensi perayaan nyepi mulai bergeser. Contoh nyatanya, Nyepi begitu dinantikan oleh para siswa sekolah, agar mereka bisa tidak pergi ke sekolah.

Nyepi sendiri memiliki larangan yang dikenal sebagai "Catur Brata Penyepian" yang terdiri dari amati geni (tidak boleh menyalakan api), amati karya (tidak boleh bekerja), amati lelungan (tidak bepergian keluar rumah), amati lelanguan (tidak boleh bersenang-senang). Tetapi kini, masyarakat mulai mengabaikan larangan-larangan tersebut. Contohnya saja larangan untuk bersenang-senang, ketika stasiun televisi tidak menyiarkan acaranya, masyarakat masih bisa bersenang-senang, mereka masih bisa streaming melalui youtube, atau menonton dvd atau cd film yang memang sengaja dibelinya. Tidak mengherankan jika beberapa hari menjelang Nyepi toko - toko dvd ataupun cd ramai diserbu masyarakat. Tidak hanya toko cd nih, swalayan dan toko – toko juga pada banyak diserbu masyarakat, katanya sich buat bekal Nyepi. Duh diolas ya, Nyepi itu cuma sehari dalam satu tahun bukan seminggu, jadi sebenarnya tidak perlu seheboh gitu juga pake bikin status di jejaring sosial ngantre panjang banget.

Dan yang lebih lucunya lagi, ketika pengrupukan (sehari sebelum nyepi) beberapa tahun yang lalu, malah terjadi bentrok antar kedua desa (tapi saya lupa apa nama desa yang bersitegang tersebut). Bukankah begitu konyol hari dimana umat Hindu menetralisir roh-roh jahat, manusia itu sendiri malahan  tidak mampu mengendalikan indrianya. Oleh karena itu, saya mengajak kawan-kawan umat Hindu di seluruh dunia untuk mengembalikan esensi Nyepi secara murni serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nyepi tidak akan tinggal nama lagi dan dilaksanakan hanya sekadar ritual semata namun melupakan esensi murninya. Yang terpenting bukan teorinya, melainkan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan kita. Terakhir dari saya, rahajeng nyanggra rahina suci Nyepi miwah warsa anyar 1935 saka. Ngiring ngiket indriane mangda iraga sareng sami prasida salunglung sabayantaka, saling asah, asih lan asuh. Berhubung internet di rumah lagi ngadat, jadi postingan kali ini tanpa gambar ya, padahal saya sudah menyiapkan sebuah gambar yang bagus, tapi gak apa deh, yang penting opini saya ini dibaca dan dapat menjadi refrensi kamu, Makasi